Telp / Fax : 0541-661350

Jl. Pahlawan Bukit Biru, Tenggarong, Kutai Kartanegara

Rindu di Kampong Tuha

Oleh: GUSDUT | 2018-03-21 | INFO PUBLIK | 524

Gambar

Baliho Festival Kampong Tuha Jembayan 2018


Jembayan adalah sebuah kampung tua. Kampung yang tercatat dalam sejarah kesultanan Kutai Kartanegara sebagai continuum dari kesultanan yang bermigrasi dari Kutai Lama, di teritori kecamatan Anggana pada saat ini. Jembayan menorehkan sejarah yang menentukan kepemimpinan di dalam kesultanan dan migrasi ke wilayah baru, di tepian batu dan didirikannya bangunan istana di Tenggarong, tepat di tepi Sungai Mahakam yang megah.

Jembayan menyisakan beberapa artefak seperti makam tua, tinggal sisa-sisa nisan dengan sisa epitaf yang semakin lapuk, gua jepang sebagai bagian dari sejarah modern yang melanda negeri ini. Dan warga Jembayan pun semakin rindu pada masa lalunya, pada sejarah yang menghubungkan dirinya dengan masa lalu moyangnya, pada identitasnya.

Festival kampong Tuha adalah jawaban dari kerinduan masa lalu.  Mereka menyelenggarakan haul, berziarah pada leluhurnya Datuk Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa, Datuk Habib Abdul Rahman, Datuk Habib Abdul Rahim, Datuk Habib Ibrahim, dan Datuk Singa Lawang  yang beristirahat di tanah tuha. Mereka menyelenggarakan ritual berpelas dan tempong tawar, bermohon pada Penguasa alam semesta akan keselamatan dan kelangsungan hidupnya di masa depan, berharap kesejahteraan dirinya, keturunannya dan anak cucunya kelak agar sejahtera dan lebih berdaya saat ini dan di masa depan.

Orang-orang jembayan pun rindu pada masa kecilnya. Rindu pada bunyi dengung tali dan gemertak kayu dari gasing yang berpusing, berbentur kayu dengan kayu dan pada landasan. Suara-suara gasing, suasana riuh, ketegangan, gegap gempita teriakan pemenang, dan celoteh penonton mengisi relung-relung rindu yang paling dalam di masa lalu yang terpuaskan pada masa sekarang dan mungkin nanti ketika gasing-gasing kembali berputar, beradu, dan tergeletak diam seiring hilangnya daya. Mereka juga rindu pada serunya permainan egrang, keriuhan asen naga, dan aroma serta rasa masakan ibunya di masa lalu yang masih bersumber pada alam, berbungkus daun yang harum alami.

Sungguh besar rindu ketika angan masa lalu dijelajahi. Dan sungguh besar asa dibangun untuk dapat kembali merasakan getarannya. Orang Jembayan, di Kampong Tuha ini sungguh rindu sangat. Rindu pada masa lalunya. Mereka pecinta dan perindu identitasnya yang semakin tergerus berbagai perubahan yang menggerus eksistensi kulturnya, pada eksistensinya terhadap Sang Pencipta, sesamanya dan alam sekitarnya. (PJ).

 

sumber:http://humas.kutaikartanegarakab.go.id